Tepat sekitar bulan ini 20 tahun lalu, sebuah rezim digdaya tumbang. 32 tahun Jenderal Besar Soeharto berkuasa di atas gelimang harta penuh darah. Rezim ultra-represif ini juga terkenal dengan tokoh dan kelompok korup yang ikut andil dalam perongrongan harta publik. Peralihan kekuasaan secara sempurna dari pemerintahan Soekarno ke Soeharto diawali dengan narasi bualan. Di antara narasi besar seperti “pemberontakan PKI” yang mencabut nyawa jutaan orang, terselip narasi yang kelak akan terus digaungkan bahkan hingga sekarang: pemuda menjadi tulang punggung dari perpindahan kekuasaan mereka. Seolah-olah, ada keterlibatan besar pemuda dalam menjatuhkan rezim lama. Narasi ini kemudian dibuat menjadi kerangka pikir: pemuda adalah pahlawan pengawal demokrasi –berhak turun ke jalan sebagai mekanisme pengawasan dalam demokrasi. Seakan-akan “demokrasi” yang diusung Soeharto adalah demokrasi yang sah. Hal yang implisit dari kerangka pikir ini adalah sektor masyarakat lain d...
Yanuar Farhanditya's Writings Portfolio